Ditresnarkoba Polda Jabar : Bongkar Sindikat Obat Ilegal di Jabar Diedarkan di Tiga Provinsi

BANDUNG,LN – Delapan orang berinisial SYM, AS, AB, IS, SS, S, MAT, dan CS harus mengakhiri kiprahnya sebagai sindikat peracik obat ilegal di Jabar. Bisnis gelap ini dibongkar personel Ditresnarkoba Polda Jabar. Pelaku mengedarkan obat ilegal ke tiga provinsi di Indonesia.

Polisi menyebut omzet hasil produksi obat ilegal G jenis double L dan Y itu mencapai Rp 1,5 miliar per bulan. Keuntungan itu didapat dari penjualan 1,5 juta pil yang dihasilkan setiap bulannya.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Erdi Adrimulan Chaniago mengatakan sindikat peracik obat ilegal itu menjalankan operasinya dari dua tempat berbeda di Jabar, yakni di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan Tasikmalaya.

“Dari hasil penjualan yang dihasilkan dengan harga per butirnya Rp 10 ribu, sedangkan mereka itu memproduksi 1,5 juta pil. Sehingga diperkirakan mendapatkan omset itu Rp 1,5 miliar, itu dari hasil produksi di dua tempat tersebut,” kata Erdi, Jumat (9/7/2021).

Delapan tersangka memiliki peran masing-masing. SYM sebagai pemilik home industry, AS sebagai kurir, AB, IS, SS, dan S sebagai peracik. Lalu sepasang suami istri yakni MAT (istri) dan CS (suami) sebagai penyedia bahan baku dan pengedar obat terlarang tersebut.

Namun yang mengotaki operasi peracikan hingga peredaran obat ilegal tersebut hingga ke tangan konsumen dilakukan oleh MAT. Alurnya yakni MAT menyediakan bahan baku lalu diserahkan pada tersangka lainnya, termasuk SS yang meraciknya di sebuah gudang di Desa Barunagri, Kecamatan Lembang, KBB yang digerebek polisi pada Rabu (6/7/2021).

“Jadi penyedia bahan baku ini tidak dilakukan pembayaran secara cash. Melainkan saudari MAT hanya meminta bayaran berupa pil yang siap diedarkan oleh mereka. Kami temukan itu di daerah Cisaranten, Kota Bandung,” kata Erdi.

Direktur Reserse Narkoba Polda Jabar Kombes Pol Rudy Ahmad Sudrajat mengatakan MAT dan CS menjual obat ilegal tersebut ke sejumlah daerah di Jawa Timur, Kalimantan dan Sulawesi.

“Sesuai dengan keterangan tersangka MAT, obat itu didistribusikan ke daerah Jatim. Sebagian lagi ke Sulawesi dan Kalimantan, jadi tidak dijual di Jabar. Dikirimnya melalui bus malam, jadi semacam kargo gitu. Dikirim dari sini, di sana sudah ada yang menerima,” kata Rudy.

Rudy mengatakan tersangka SS yang memproduksi obat terlarang dari gudang di Lembang (Kabupaten Bandung Barat) ini menyamarkan operasinya dengan memelihara unggas di bagian belakang lahan yang disewanya. “Di belakang ini ada kandang unggas. Menurut pengakuan tersangka ini hobi yang bersangkutan, tapi kalau kami lihat ini bisa saja untuk menutupi operasinya. Jadi mengelabui warga di sini dengan peternakan unggas,” tutur Rudy. (Red)

 

EITS... MAU COPAS YA ? TULIS SENDIRI DONK !!!