Perang Melawan Narkotika Pemicu Kekerasan Pada Perempuan

JAKARTA,LN – Perempuan yang bersinggungan dengan narkotika mendapatkan stigma dan diskriminasi berlapis. Hal ini terjadi bukan tanpa sebab. Isu narkotika memang masih dianggap sebagai sesuatu yang maskulin. Perempuan yang bersinggungan dengan narkotika mendapatkan stigma dan diskriminasi berlapis. Selain itu kerangka hukum di Indonesia yang masih mengkriminalisasi pengguna narkotika membuat suara perempuan semakin tenggelam.

Kampanye Perang Melawan Narkoba yang dilaksanakan di Indonesia telah kekerasan pada perempuan. Mulai dari stigma sebagai pengguna, pasangan, dan keluarga tertuduh narkotika; didasarkan pada kepolisian dan pengadilan saat menjadi tertuduh pengguna atau pengedar yang berujung pada pemenjaraan tanpa akses rehabilitasi. Hal ini berujung pada berbagai wilayah, informasi akses fasilitas publik, hingga perlakuan tidak adil di dalam masyarakat .

Kampanye yang dilakukan untuk mengatur narkotika dapat menjadi pemicu kekerasan bagi perempuan yang terlibat dalam lingkaran sindikat narkotika. Termasuk perempuan pengguna, perantara dan penjual. Stigma negatif tidak hanya melekat di tubuh narapidana perempuan namun juga keluarganya. Sehingga membuat perempuan semakin rentan.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyarakat mencatat peningkatan peningkatan narapidana. Pada tahun 2013 terdapat 100.243 narapidana narkotika laki-laki dengan proporsi peningkatan 6,4% dan 5,315 narapidana narkotika perempuan dengan proporsi peningkatan 8,3%. Pada 2019 sebanyak 150.064 narapidana narkotika laki-laki dengan proporsi peningkatan 16,1% dan 8,812 narapidana narkotika perempuan dengan proporsi peningkatan 17,1%.

Aisya Humaida, dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyarakat menjelaskan kampanye ini menyebabkan overkapasitas pemenjaraan karena terdapat beberapa pasal karet yang dapat mempidanakan perempuan bahkan perempuan yang tereksploitasi. Secara jumlah narapidana perempuan memang lebih kecil dari sisi laki-laki tapi dari sisi laju kecepatan lebih cepat.

“Overkapasitas pemenjaraan mencapai 75% Data Ditjen Pemasyarakatan, Agustus 2020. Narapidana kasus narkotika 115.289, 95% dari total narapidana khusus yang ada di Indonesia. Hal ini karena undang-undang narkotika yang sifatnya pemenjaraan . Ada 3 pasal karet yaitu pasal 11 pasal 112 dan pasal 114 yang dapat mempidana, “kata Aisya di Jakarta, Jumat (11/09/2020).

Aisya menambahkan, dengan kondisi pasalnya yang sangat baik dengan penghukuman. Ada kelompok yang paling rentan dan terlupakan dari tindak pidana narkotika. Karena perempuan dalam relasi kuasa paling rendah.

Ada banyak faktor yang memposisikan perempuan dalam lingkaran sindikat narkotika. Faktor Ekonomi, perempuan yang lebih mudah dibujuk karena akses pekerjaan yang sulit mereka dapat. Dan faktor trauma kekerasan, misalnya perempuan yang pernah mengalami kekerasan biasanya membekas dan dapat melakukan apa saja untuk melupakan trauma tersebut.

*Kekerasan* *yang* *diterima*

Hasil penelitian Perempuan Bersuara yang melibatkan 700 responden, sebanyak 45% perempuan mengaku memiliki pengalaman ditangkap oleh polisi. Diantara perempuan yang ditangkap, 93% di antaranya berkaitan dengan NAPZA. Parahnya, rata-rata penangkapan adalah 3 kali, sampai pada waktu penelitian data. Sebanyak 14% perempuan pernah dipenjarakan dengan kasus NAPZA sebagai pengguna, perantara, dan penjual.

Rosma Karlina dari AKSI Keadilan Indonesia menjelaskan tentang kekerasan yang perempuan pengguna narkotika dari proses penangkapan hingga stigma-stigma yang harus dibongkar.

“Intimidasi yang diterima perempuan pada proses penangkapan ialah pelecehan verbal dan fisik yang dilakukan saat proses penggeledahan tubuh dan pemerasan saat penangkapan.
Stigma perempuan nakal dan tidak bermoral melekat pada perempuan.
Padahal banyak perempuan yang ditangkap karena mereka terjebak dalam sindikat pengedaran narkotika ”jelas Rosma.

Perempuan Pengguna narkotika bukan menjadi penyebab mendapat kekerasan, pelecehan dan intimidasi. Karena mereka pun sama seperti perempuan lainnya.
Narasi lain seperti pengecaman berlebihan pada pengguna narkotika juga telah membangun stigma yang membatasi pengguna narkotika khususnya perempuan untuk dapat memenuhi hak dasar mereka sebagai manusia. (Red)

 

EITS... MAU COPAS YA ? TULIS SENDIRI DONK !!!